Kenapa Warna Kulit Setiap Orang Bisa Berbeda-beda?

Seseorang memiliki tinggi tubuh, tekstur rambut dan warna mata yang bervariasi merupakan hal yang dijadikan karakteristik. Namun warna kulit berbeda pada manusia adalah sifat yang sering digunakan apabila menggambarkan individu.

Bukan hanya bahasa yang beragam di setiap negara di dunia ini. Namun, warna kulit pada manusia yang berbeda-beda juga menjadikan keunikan tersendiri. Ada beberapa faktor yang menjadikan kulit manusia berbeda-beda, baik itu warna putih, kuning, sawo matang seperti kulit orang Indonesia ataupun albino.

3 Penyebab Warna Kulit Berbeda

1. Secara biologis

Manusia memiliki struktur kulit yang sama, warna kulit dipengaruhi oleh banyaknya melanin (zat pigmen kulit) pada kulit. Melanin disusun oleh melanosit, sel khusus di lapisan dermis kulit.

Kulit manusia sendiri terdiri dari lapisan epidermis yang paling luar, lapisan dermis di tengah-tengah, dan lapisan hipodermis (lemak) yang paling bawah. Sel di epidermis (lapisan terluar kulit) disebut melanosit memproduksi melanin, pigmen yang memberikan warna pada kulit dan mata. Banyak hal yang bisa memengaruhi produksi melanin, contohnya hormon dari otak, dan sinar ultraviolet Matahari.

Melanin Pada Kulit warna hitam dan putih

Pada individu berkulit hitam, melanosit mensintesis melanin coklat ataupun hitam yang kemudian dikemas menjadi peri-nuklir didistribusikan pada ellipsoid melanosomes keratinosit. Hal semacam ini merupakan pengaturan optimal untuk penyaringan UV dan perlindungan DNA.

Pada kulit putih, melanosit mensintesis proporsi lebih tinggi dari pheomelanin kuning dan merah. Kemudian dirakit menjadi kerumunan kecil melanosom yang melingkar pada keratinosit. Disebut juga sebagai efek senyawa minimal filtrasi UV.

Selain itu, pheomelanin lebih foto-reaktif dari melanin dan menghasilkan DNA-radikal bebas yang rusak apabila terkena radiasi UV yang memungkinkan meningkatkan karsinogenesis. Oleh karena itu, individu berkulit putih sangat rentan terhadap kanker kulit dibandingkan dengan individu berwarna kulit hitam yang lebih adaptif terhadap sinar matahari.

Bentuk paling umum dari kanker kulit adalah karsinoma sel basal (KSB), karsinoma sel skuamosa (SCC), dan melanoma. Masing-masing telah dikaitkan dengan intermiten atau kronis paparan sinar matahari.

Lalu bagaimana dengan Albino?

Albino dalam bahasa latin adalah alba yang artinya putih. Albinisme terjadi karena adanya kerusakan pewarisan dari melanin pigmentasi tapi dengan nomor normal dan disposisi dari melanosit pada kulit, mata dan rambut. Seorang peneliti mengemukakan bahwa orang berkulit albino memiliki risiko terbesar dari semua kanker.

Hal tersebut didukung percobaan pada tikus albino mengalami dosis tunggal radiasi UV yang setara tersengat sinar matahari ternyata mampu meningkatkan melanoma dengan cepat saat terkena UV sebelum usia enam minggu. Berbeda dengan tikus lainnya yang tidak rentan kanker seperti pada tikus liar sangat adaptif terhadap radiasi UV.

Kesimpulannya adalah perbedaan warna kulit yang pertama dipengaruhi oleh melanin. Warna kulit hitam artinya memiliki melanin yang sangat banyak, berbeda dengan warna kulit putih yang memiliki melanin sangat rendah. Terlebih albino yang rentan terhadap kanker kulit karena radiasi dikarenakan tidak memiliki melanin.

2.Radiasi/Paparan Sinar Matahari

Warna kulit manusia berbeda-beda karena melanin dan produksi melanin bergantung pada beberapa faktor seperti paparan sinar matahari. Pigmen melanin bertambah banyak dengan adanya paparan sinar matahari.

Oleh karena itu, manusia yang tinggal di daerah tropis akan sangat mudah memiliki warna kulit yang gelap karena intensitas cahaya matahari lebih banyak dibandingkan wilayah lainnya.

3. Evolusi warna kulit

Pada suatu penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli secara tidak sengaja menemukan hubungan asam folat dengan warna kulit. Orang yang kulitnya terpapar oleh sinar matahari intensitas tinggi akan mengalami penurunan signifikan kadar folat di dalam tubuhnya. Ternyata folat sangat cukup diperlukan untuk perkembangan saraf pada janin. Apabila seorang ibu hamil kekurangan folat, janin yang dikandung dapat mengalami defek kongenital bernama spina bifida, sehingga menurunkan survival pada keturunannya.

Selain ibu hamil, folat juga sangat diperlukan untuk proses fisiologis terutama sintesis DNA normal dari sel-sel tubuh termasuk pembentukan sperma (spermatogenesis). Jadi, folat juga terkait dengan kesuburan pada seorang pria. Hal seperti inilah yang mendasari pemikiran bahwa ada evolusi yang terjadi.

Evolusi dan seleksi alam bertujuan melindungi kadar folat tubuh yang penting bagi kelangsungan spesies (melalui proses reproduksi). Melalui proses yang begitu lama, terjadilah perubahan genetik, kulit manusia yang tinggal di ekuator.

Jadi memproduksi melanin untuk melindungi kadar folat. Apabila tidak terbentuk perlindungan ini, maka manusia tersebut akan mengalami gangguan dalam proses reproduksi terkait kekorangan folat. Dan Apabila ada variasi genetik, maka genetik manusia yang bertahan sampai sekarang adalah keturunan yang mempunyai produksi yang cukup melanin (jadi mayoritas satu ras kulitnya hitam).

Manusia yang berpindah tempat tinggal ke daerah dekat kutub kulitnya akan menjadi berwarna lebih cerah. Karena mereka tidak terlalu membutuhkan perlindungan melanin sebab paparan sinar UV yang tidak bergitu banyak seperti di ekuator.

Baca Juga: Penyebab Kulit Wajah Hitam dan Kusam

Kenapa warna kulit setiap orang bisa berbeda-beda? Karena Sang Pencipta dengan mudahnya memerintahkan bintang dan matahari untuk mengeluarkan sinar ultravioletnya dengan intensitas yang berbeda-beda di setiap daerah sesuai dengan posisi bujur dan lintangnya. Sehingga warna kulit pada manusia pun berbeda-beda.

Leave A Reply

Your email address will not be published.